Banyak orang menganggap Google Business Profile (GBP) hanya cocok untuk bisnis yang melayani konsumen secara langsung, seperti restoran, salon, toko, atau kafe.
Padahal, perusahaan yang menjual produk atau layanan kepada bisnis lain (B2B) juga bisa memanfaatkan Google Business Profile untuk meningkatkan visibilitas dan memperoleh calon klien.
Namun, ada satu hal yang sering terlewat. Meskipun sama-sama menggunakan Google Business Profile, cara menyusun profil untuk bisnis B2B dan B2C tidak bisa disamakan.
Perbedaan ini bukan karena fitur Google yang berbeda, melainkan karena perilaku calon pelanggan, tujuan pencarian, dan proses pengambilan keputusan yang juga berbeda.
Perbedaan cara berpikir calon pelanggan inilah yang seharusnya menjadi dasar ketika menyusun informasi di Google Business Profile. Profil yang relevan dengan kebutuhan pencari akan lebih membantu mereka mengambil keputusan untuk menghubungi bisnis Anda.
Apa Perbedaan B2B dan B2C?
Sebelum membahas bagaimana menyusun Google Business Profile, kita perlu memahami terlebih dahulu perbedaan antara B2B (Business to Business) dan B2C (Business to Consumer).
Meskipun sama-sama menjalankan aktivitas bisnis, kedua model ini memiliki target pelanggan, cara berkomunikasi, hingga proses penjualan yang berbeda.
Perbedaan tersebut juga memengaruhi informasi yang ingin diketahui calon pelanggan saat menemukan bisnis Anda di Google Search atau Google Maps.
Apa yang Dimaksud Bisnis B2B?
B2B (Business to Business) adalah model bisnis yang menjual produk atau layanan kepada perusahaan atau organisasi lain, bukan langsung kepada konsumen akhir.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan software yang menyediakan sistem ERP untuk pabrik, konsultan pajak yang melayani perusahaan, distributor bahan baku makanan, atau kontraktor yang mengerjakan proyek gedung termasuk bisnis B2B.
Dalam model ini, keputusan pembelian biasanya melibatkan lebih dari satu orang.
Calon pelanggan dapat berasal dari pemilik perusahaan, manajer pembelian (procurement), manajer operasional, atau bahkan tim yang bertugas mengevaluasi beberapa vendor sekaligus sebelum mengambil keputusan.
Karena nilai transaksi sering kali lebih besar dan prosesnya lebih kompleks, calon klien biasanya membutuhkan lebih banyak informasi sebelum menghubungi sebuah perusahaan.
Apa yang Dimaksud Bisnis B2C?
Berbeda dengan B2B, B2C (Business to Consumer) adalah model bisnis yang menjual produk atau layanan langsung kepada konsumen.
Contohnya antara lain restoran, salon, klinik kecantikan, toko pakaian, gym, bengkel, hingga kedai kopi. Pelanggan yang mencari bisnis tersebut umumnya adalah orang yang akan langsung menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan.
Proses pengambilan keputusan pada bisnis B2C biasanya lebih cepat. Seseorang dapat menemukan bisnis melalui Google, melihat lokasi, membaca beberapa ulasan, kemudian langsung datang ke tempat atau melakukan pemesanan.
Karena itu, informasi seperti jam operasional, alamat, nomor telepon, harga, atau foto produk sering menjadi faktor utama yang diperhatikan.
Bisakah Satu Perusahaan Menjadi B2B dan B2C Sekaligus?
Tentu bisa. Bahkan, cukup banyak perusahaan yang melayani kedua segmen tersebut secara bersamaan.
Misalnya, sebuah produsen furnitur yang memasok produk ke hotel dan kantor (B2B), tetapi juga menjual langsung kepada pelanggan melalui showroom (B2C).
Contoh lain adalah perusahaan software yang menawarkan solusi enterprise untuk perusahaan sekaligus menyediakan paket berlangganan bagi pengguna individu.
Pada kondisi seperti ini, penting untuk menentukan positioning utama yang ingin ditampilkan melalui Google Business Profile.
Jika mayoritas calon pelanggan berasal dari perusahaan, maka profil sebaiknya lebih menonjolkan layanan, pengalaman, dan kredibilitas sebagai vendor profesional.
Sebaliknya, jika sebagian besar pelanggan adalah konsumen langsung, informasi yang memudahkan mereka berkunjung atau bertransaksi perlu menjadi prioritas.
Singkatnya, perbedaan B2B dan B2C bukan hanya soal siapa yang membeli, tetapi juga bagaimana mereka mencari informasi dan mengambil keputusan. Perbedaan inilah yang menjadi dasar mengapa strategi penyusunan Google Business Profile untuk bisnis B2B dan B2C tidak selalu sama.
Mengapa Perbedaan B2B dan B2C Mempengaruhi Google Business Profile?
Google Business Profile pada dasarnya berfungsi sebagai tempat calon pelanggan mengenal bisnis Anda sebelum memutuskan untuk menghubungi atau mengunjunginya. Namun, informasi yang dianggap penting oleh setiap orang tidak selalu sama.
Seseorang yang ingin membeli secangkir kopi tentu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda dengan seorang manajer yang sedang mencari vendor software untuk perusahaannya.
Karena itulah, perbedaan model bisnis B2B dan B2C ikut memengaruhi bagaimana Google Business Profile sebaiknya disusun.
Semakin sesuai informasi yang ditampilkan dengan kebutuhan calon pelanggan, semakin besar pula peluang mereka melanjutkan ke tahap berikutnya, baik itu menelepon, mengirim email, meminta penawaran, maupun datang langsung ke lokasi bisnis.
Perbedaan Cara Orang Melakukan Pencarian
Salah satu perbedaan paling jelas antara B2B dan B2C terlihat dari cara calon pelanggan menggunakan Google Search maupun Google Maps. Pada bisnis B2C, pencarian biasanya bersifat langsung dan berorientasi pada kebutuhan yang ingin segera dipenuhi. Misalnya:
- “Coffee shop terdekat.”
- “Salon buka sekarang.”
- “Dokter gigi dekat sini.”
Pengguna ingin mendapatkan informasi dengan cepat, seperti lokasi, jam operasional, nomor telepon, harga, atau ulasan pelanggan.
Sementara itu, pencarian pada bisnis B2B cenderung lebih spesifik dan berorientasi pada solusi. Contohnya:
- “Supplier bahan baku makanan.”
- “Jasa digital marketing untuk perusahaan.”
- “Vendor ERP Indonesia.”
Mereka tidak hanya ingin mengetahui lokasi perusahaan, tetapi juga ingin memastikan apakah perusahaan tersebut benar-benar memiliki keahlian dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka.
Perbedaan Pengambil Keputusan
Pada bisnis B2C, orang yang mencari biasanya adalah orang yang akan langsung menggunakan produk atau layanan tersebut. Setelah merasa cocok, mereka dapat segera melakukan pembelian atau berkunjung.
Sebaliknya, pada bisnis B2B, orang yang melakukan pencarian belum tentu menjadi pihak yang mengambil keputusan akhir.
Bisa saja yang mencari adalah staf procurement, manajer operasional, atau tim riset vendor. Hasil pencarian tersebut kemudian akan dibawa kepada atasan atau pihak lain untuk dievaluasi sebelum perusahaan memilih satu vendor.
Karena melibatkan beberapa pihak, calon klien B2B biasanya membutuhkan informasi yang lebih lengkap untuk membantu proses evaluasi.
Perbedaan Buying Journey
Perjalanan pelanggan (buying journey) pada bisnis B2C umumnya lebih singkat.
Seseorang dapat menemukan bisnis di Google, membaca beberapa ulasan, melihat foto, kemudian langsung melakukan pembelian atau datang ke lokasi pada hari yang sama.
Sementara itu, buying journey pada bisnis B2B sering kali berlangsung lebih lama. Calon klien biasanya akan:
- Mencari beberapa perusahaan yang relevan.
- Membandingkan layanan yang ditawarkan.
- Mengunjungi website masing-masing perusahaan.
- Menghubungi beberapa vendor.
- Meminta proposal atau penawaran.
- Melakukan diskusi sebelum menentukan pilihan.
Karena prosesnya lebih panjang, Google Business Profile pada bisnis B2B berperan sebagai pintu masuk untuk membangun kepercayaan, bukan sekadar mendorong transaksi instan.
Perbedaan Informasi yang Dibutuhkan Sebelum Menghubungi Bisnis
Perbedaan lain yang tidak kalah penting adalah jenis informasi yang ingin diketahui calon pelanggan. Pada bisnis B2C, informasi praktis biasanya menjadi prioritas, seperti:
- Apakah bisnis masih buka?
- Berapa nomor teleponnya?
- Bagaimana ulasannya?
- Di mana lokasinya?
Sebaliknya, calon pelanggan B2B lebih banyak mencari informasi yang membantu mereka menilai kelayakan sebuah perusahaan sebagai mitra bisnis, misalnya:
- Layanan apa saja yang ditawarkan?
- Industri apa yang dilayani?
- Apakah perusahaan memiliki pengalaman yang relevan?
- Apakah tersedia website untuk melihat portofolio atau informasi lebih lengkap?
- Bagaimana cara menghubungi tim penjualan atau konsultasi?
Dengan kata lain, Google Business Profile untuk bisnis B2C lebih banyak membantu orang mengambil keputusan untuk berkunjung atau membeli.
Sedangkan Google Business Profile untuk bisnis B2B lebih berfungsi membantu calon klien mengevaluasi apakah perusahaan tersebut layak dipertimbangkan sebagai vendor atau mitra bisnis.
Inilah alasan mengapa menyusun Google Business Profile tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua jenis bisnis.
Memahami siapa yang mencari, informasi apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mereka mengambil keputusan akan membantu Anda menyusun profil yang lebih relevan dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi calon pelanggan.
Informasi Apa yang Dicari Pengguna B2B vs B2C?
Meskipun sama-sama menggunakan Google Search atau Google Maps untuk mencari bisnis, tujuan pencarian pengguna B2B dan B2C sangat berbeda. Perbedaan inilah yang membuat informasi yang perlu ditampilkan pada Google Business Profile juga tidak bisa disamakan.
Pada bisnis B2C, calon pelanggan umumnya ingin mendapatkan jawaban secepat mungkin agar bisa segera membeli atau mengunjungi lokasi. Sebaliknya, pada bisnis B2B, calon klien biasanya sedang melakukan proses evaluasi sebelum menghubungi perusahaan.
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaannya.
| Faktor | B2B | B2C |
|---|---|---|
| Siapa yang mencari? | Decision maker, procurement, manajer, atau tim pembelian | Konsumen langsung |
| Tujuan pencarian | Mengevaluasi vendor atau penyedia jasa | Membeli produk, menggunakan layanan, atau berkunjung |
| Informasi yang dicari | Keahlian, layanan, pengalaman, kredibilitas perusahaan | Harga, lokasi, jam operasional, foto, ulasan |
| Buying journey | Lebih panjang dan melibatkan beberapa tahap | Relatif singkat dan cepat |
| Konversi yang diharapkan | Inquiry, konsultasi, permintaan penawaran, atau meeting | Kunjungan, pembelian, pemesanan, atau booking |
Mari kita bahas satu per satu agar lebih jelas.
Siapa yang Melakukan Pencarian?
Pada bisnis B2C, orang yang mencari biasanya adalah calon pelanggan itu sendiri. Mereka memiliki kebutuhan yang ingin segera dipenuhi dan siap mengambil keputusan tanpa melalui proses yang panjang.
Berbeda dengan B2B. Orang yang menemukan profil bisnis Anda di Google belum tentu menjadi pengambil keputusan akhir.
Bisa jadi mereka adalah staf procurement, manajer operasional, atau anggota tim yang sedang mengumpulkan beberapa pilihan vendor untuk dipresentasikan kepada pihak manajemen.
Karena itu, informasi yang tersedia di Google Business Profile harus mampu membantu proses evaluasi, bukan hanya menarik perhatian.
Apa Tujuan Mereka Mencari Bisnis Anda?
Pengguna B2C umumnya ingin segera mengetahui apakah sebuah bisnis sesuai dengan kebutuhan mereka saat itu. Misalnya:
- Apakah toko masih buka?
- Apakah lokasinya dekat?
- Berapa nomor teleponnya?
- Bagaimana ulasan pelanggan lain?
Sebaliknya, pencari dari segmen B2B memiliki tujuan yang berbeda. Mereka ingin memastikan apakah perusahaan Anda memang layak dipertimbangkan sebagai mitra bisnis. Pertanyaan yang muncul biasanya lebih seperti:
- Apakah perusahaan ini berpengalaman di bidang saya?
- Layanan apa saja yang mereka tawarkan?
- Industri apa yang mereka tangani?
- Apakah mereka memiliki website untuk melihat portofolio atau studi kasus?
Informasi yang Menjadi Prioritas
Perbedaan kebutuhan juga terlihat dari informasi yang dianggap paling penting.
Pada bisnis B2C, informasi praktis sering menjadi penentu keputusan. Jam operasional, alamat, foto tempat, ulasan pelanggan, hingga nomor telepon biasanya menjadi hal pertama yang diperhatikan.
Sementara itu, pada bisnis B2B, calon klien cenderung lebih memperhatikan informasi yang menunjukkan profesionalisme perusahaan, seperti:
- Deskripsi layanan yang jelas.
- Bidang industri yang dilayani.
- Website perusahaan.
- Foto kantor atau tim profesional.
- Bukti pengalaman atau kredibilitas perusahaan.
Mereka ingin merasa yakin bahwa perusahaan yang ditemukan benar-benar mampu menangani kebutuhan bisnisnya.
Perjalanan Menuju Konversi
Perjalanan pelanggan juga memengaruhi jenis informasi yang mereka cari.
Pada bisnis B2C, seseorang dapat menemukan bisnis di Google, membaca beberapa ulasan, lalu langsung melakukan pembelian atau datang ke lokasi pada hari yang sama.
Sebaliknya, pada bisnis B2B, Google Business Profile biasanya hanya menjadi langkah awal. Setelah menemukan perusahaan, calon klien akan melanjutkan ke website, mempelajari layanan, membandingkan beberapa vendor, hingga akhirnya menghubungi perusahaan yang dianggap paling sesuai.
Artinya, keberhasilan Google Business Profile pada bisnis B2B tidak selalu diukur dari banyaknya kunjungan ke lokasi, tetapi juga dari kemampuannya mendorong calon klien untuk melanjutkan proses evaluasi.
Konversi yang Diharapkan Pun Berbeda
Karena tujuan pencarian berbeda, bentuk konversi yang diharapkan juga tidak sama. Pada bisnis B2C, konversi biasanya berupa tindakan yang bersifat langsung, seperti:
- Datang ke toko.
- Melakukan pemesanan.
- Booking layanan.
- Menelepon untuk reservasi.
Sementara itu, pada bisnis B2B, konversi lebih sering berupa langkah awal dalam proses penjualan, misalnya:
- Menghubungi tim sales.
- Mengirim formulir inquiry.
- Meminta proposal atau penawaran harga.
- Menjadwalkan konsultasi atau presentasi.
Inilah alasan mengapa Google Business Profile untuk bisnis B2B tidak cukup hanya menampilkan informasi dasar seperti alamat dan jam operasional.
Profil tersebut juga perlu memberikan gambaran yang jelas mengenai kompetensi perusahaan sehingga calon klien memiliki alasan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, seperti mengunjungi website atau menghubungi tim penjualan.
Bagaimana Menyesuaikan Profil Google untuk Bisnis B2B?
Jika target pelanggan Anda adalah perusahaan lain, maka Google Business Profile sebaiknya tidak hanya berfungsi sebagai “penanda lokasi” di Google Maps.
Profil tersebut juga perlu menjadi media yang membantu calon klien memahami siapa perusahaan Anda, layanan apa yang ditawarkan, dan mengapa mereka layak mempertimbangkan Anda sebagai mitra bisnis.
Artinya, fokus utama bukan sekadar membuat profil terlihat lengkap, tetapi memastikan informasi yang ditampilkan benar-benar relevan dengan proses evaluasi calon klien.
Berikut beberapa aspek yang perlu menjadi prioritas.
Perjelas Positioning Perusahaan
Hal pertama yang perlu dipahami calon klien adalah apa yang sebenarnya perusahaan Anda kerjakan. Hindari deskripsi yang terlalu umum seperti: “Melayani berbagai kebutuhan bisnis Anda.”
Kalimat tersebut tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai bidang usaha maupun keahlian perusahaan. Sebaliknya, jelaskan positioning secara spesifik. Misalnya, apakah perusahaan bergerak di bidang:
- Konsultan bisnis.
- Jasa digital marketing.
- Software house.
- Supplier bahan baku industri.
- Kontraktor bangunan komersial.
- Distributor alat kesehatan.
Semakin jelas positioning perusahaan, semakin mudah calon klien memahami apakah bisnis Anda relevan dengan kebutuhan mereka.
Tampilkan Layanan yang Memang Ditawarkan
Selain mengetahui jenis perusahaan, calon klien juga ingin memahami layanan yang bisa mereka gunakan.
Misalnya, jika Anda memiliki perusahaan digital marketing, informasi seperti berikut akan lebih membantu dibanding sekadar menuliskan “Jasa Digital Marketing”:
- SEO.
- Google Ads.
- Social Media Ads.
- Website Lead Generation.
- Landing Page.
- Conversion Rate Optimization (CRO).
Begitu pula untuk bisnis lain. Fokuslah pada layanan utama yang memang menjadi kekuatan perusahaan sehingga calon klien dapat langsung mengetahui apakah solusi yang mereka cari tersedia.
Jelaskan Industri atau Jenis Klien yang Dilayani
Pada bisnis B2B, tidak semua layanan cocok untuk semua industri. Sebagai contoh, sebuah perusahaan software mungkin lebih berpengalaman melayani:
- perusahaan manufaktur,
- distributor,
- rumah sakit,
- perusahaan logistik,
- atau sektor pendidikan.
Informasi seperti ini membantu calon pelanggan merasa lebih yakin karena melihat adanya pengalaman yang relevan dengan bidang usaha mereka.
Jika perusahaan memiliki spesialisasi tertentu, tidak ada salahnya menonjolkannya. Justru hal tersebut dapat membantu menarik prospek yang lebih sesuai dibanding mencoba terlihat cocok untuk semua jenis bisnis.
Pastikan Informasi Kontak Mudah Dihubungi
Ketika calon klien sudah tertarik, langkah berikutnya adalah menghubungi perusahaan. Karena itu, pastikan informasi kontak mudah ditemukan dan selalu diperbarui, seperti:
- nomor telepon kantor,
- alamat email bisnis,
- website perusahaan,
- atau kanal komunikasi lain yang memang digunakan untuk melayani calon pelanggan.
Tujuannya adalah memudahkan mereka melanjutkan proses konsultasi atau meminta penawaran tanpa harus mencari informasi tambahan di tempat lain.
Bangun Kredibilitas melalui Bukti Profesional
Berbeda dengan bisnis B2C yang sering mengandalkan foto produk atau suasana tempat usaha, bisnis B2B lebih membutuhkan bukti yang menunjukkan profesionalisme perusahaan. Misalnya berupa:
- foto kantor,
- foto tim profesional,
- dokumentasi proyek,
- sertifikasi perusahaan,
- penghargaan,
- atau aktivitas operasional.
Konten visual seperti ini membantu calon klien memperoleh gambaran bahwa perusahaan benar-benar aktif dan memiliki kapasitas untuk menangani proyek yang ditawarkan.
Jika perusahaan telah menangani berbagai proyek atau memiliki pengalaman di industri tertentu, hal tersebut juga dapat menjadi nilai tambah yang memperkuat kepercayaan.
Gunakan Website sebagai Pendukung Evaluasi
Pada bisnis B2B, Google Business Profile sering kali bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju website perusahaan.
Setelah menemukan profil bisnis di Google, calon klien biasanya akan mengunjungi website untuk mempelajari informasi yang lebih lengkap, seperti:
- profil perusahaan,
- layanan secara detail,
- portofolio,
- studi kasus,
- testimoni,
- hingga formulir konsultasi.
Karena itu, pastikan website yang ditautkan benar-benar mendukung proses evaluasi tersebut.
Google Business Profile berperan menarik perhatian dan membangun kepercayaan awal, sedangkan website membantu calon klien memperoleh informasi yang lebih mendalam sebelum memutuskan untuk menghubungi perusahaan.
Bagaimana Profil Google untuk Bisnis B2C?
Jika pada bisnis B2B Google Business Profile berperan membantu calon klien mengevaluasi sebuah perusahaan, maka pada bisnis B2C fungsinya lebih banyak membantu calon pelanggan mengambil keputusan untuk berkunjung, membeli, atau menggunakan layanan.
Artinya, informasi yang ditampilkan perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis yang biasanya muncul sebelum seseorang melakukan transaksi.
Meskipun tetap penting menjaga profil bisnis tetap lengkap dan profesional, prioritas informasi pada bisnis B2C umumnya berbeda dibanding bisnis B2B.
Lokasi dan Jam Operasional Lebih Menonjol
Salah satu alasan terbesar orang mencari bisnis B2C melalui Google adalah karena mereka ingin mengetahui apakah bisnis tersebut mudah dikunjungi.
Misalnya, seseorang yang mencari restoran, bengkel, klinik, atau salon biasanya ingin mengetahui:
- Di mana lokasinya?
- Apakah masih buka?
- Berapa jam operasionalnya?
- Bagaimana cara menuju ke sana?
Informasi seperti ini sering menjadi penentu apakah seseorang akan langsung datang atau memilih bisnis lain yang lebih dekat atau masih buka. Oleh karena itu, lokasi yang jelas dan jam operasional yang selalu diperbarui menjadi informasi yang sangat penting bagi bisnis B2C.
Produk atau Layanan Lebih Mudah Dilihat
Calon pelanggan B2C umumnya ingin mengetahui apa yang bisa mereka beli atau gunakan sebelum datang.
Karena itu, Google Business Profile sebaiknya memberikan gambaran mengenai produk atau layanan utama yang ditawarkan. Misalnya:
- restoran menampilkan menu andalan,
- salon memperlihatkan jenis layanan yang tersedia,
- klinik menjelaskan layanan kesehatan yang diberikan,
- toko menunjukkan kategori produk yang dijual.
Tujuannya bukan menjelaskan seluruh katalog, tetapi membantu calon pelanggan memahami apakah bisnis tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pengalaman Pelanggan Menjadi Faktor Penting
Pada banyak bisnis B2C, keputusan pembelian sering dipengaruhi oleh pengalaman pelanggan lain. Sebelum memilih sebuah restoran atau tempat perawatan, misalnya, orang biasanya akan melihat:
- rating bisnis,
- ulasan pelanggan,
- foto dari pengunjung,
- atau pengalaman yang dibagikan oleh pelanggan sebelumnya.
Semakin banyak ulasan yang relevan dan memberikan gambaran positif mengenai kualitas produk maupun pelayanan, semakin besar peluang calon pelanggan merasa yakin untuk memilih bisnis tersebut.
Hal ini berbeda dengan bisnis B2B yang umumnya lebih mengutamakan pengalaman perusahaan, portofolio, atau kredibilitas profesional dibanding jumlah ulasan semata.
Call to Action Lebih Berorientasi Transaksi Cepat
Karakteristik lain dari bisnis B2C adalah proses pengambilan keputusan yang relatif singkat. Setelah menemukan informasi yang dibutuhkan, calon pelanggan biasanya ingin segera melakukan tindakan.
Oleh karena itu, Google Business Profile pada bisnis B2C perlu memudahkan mereka untuk:
- menelepon bisnis,
- meminta petunjuk arah,
- melakukan pemesanan,
- membuat reservasi,
- atau mengunjungi website jika diperlukan.
Semakin sedikit hambatan dalam proses tersebut, semakin besar kemungkinan calon pelanggan segera bertransaksi.
Fokusnya Adalah Membantu Pelanggan Bertindak
Perbedaan paling mendasar antara profil Google untuk bisnis B2B dan B2C terletak pada tujuan akhirnya.
Pada bisnis B2B, Google Business Profile membantu calon klien mengevaluasi apakah sebuah perusahaan layak dipertimbangkan sebagai mitra bisnis.
Sementara pada bisnis B2C, profil tersebut lebih berfungsi membantu pelanggan mengambil keputusan dengan cepat, seperti datang ke lokasi, melakukan pembelian, atau memesan layanan.
Itulah sebabnya, informasi yang paling ditonjolkan pada bisnis B2C umumnya berkaitan dengan kemudahan bertransaksi, seperti lokasi, jam operasional, produk atau layanan, serta pengalaman pelanggan.
Dengan menyesuaikan isi profil terhadap kebutuhan calon pelanggan, Google Business Profile dapat memberikan pengalaman yang lebih relevan sekaligus meningkatkan peluang terjadinya konversi.
Bagaimana Jika Perusahaan Melayani B2B dan B2C Sekaligus?
Tidak semua perusahaan hanya berfokus pada satu jenis pelanggan. Ada banyak bisnis yang melayani perusahaan (B2B) sekaligus konsumen akhir (B2C). Model seperti ini cukup umum dijumpai di berbagai industri.
Misalnya, sebuah produsen furnitur yang memasok produk ke hotel dan perkantoran, tetapi juga menjual langsung kepada pelanggan melalui showroom.
Atau perusahaan software yang menawarkan solusi untuk perusahaan sekaligus menyediakan paket berlangganan bagi pengguna individu.
Dalam kondisi seperti ini, Google Business Profile tetap dapat dimanfaatkan secara efektif. Namun, tantangannya adalah menentukan positioning utama agar profil tidak membingungkan calon pelanggan.
Supplier yang Juga Menjual ke Konsumen
Banyak supplier atau distributor yang awalnya hanya melayani perusahaan, kemudian membuka penjualan langsung kepada masyarakat. Contohnya:
- distributor bahan bangunan yang juga memiliki toko retail,
- supplier alat listrik yang melayani proyek sekaligus penjualan satuan,
- distributor alat kesehatan yang juga menjual produk tertentu kepada konsumen.
Pada situasi seperti ini, Google Business Profile perlu memberikan gambaran yang jelas mengenai kedua layanan tersebut. Dengan begitu, calon pelanggan dapat langsung mengetahui apakah mereka dapat membeli secara eceran, dalam jumlah besar, atau keduanya.
Manufacturer dengan Penjualan Langsung
Tidak sedikit perusahaan manufaktur yang kini menjual produknya langsung kepada konsumen tanpa melalui distributor. Sebagai contoh, produsen furnitur dapat melayani:
- proyek hotel,
- perkantoran,
- apartemen,
- sekaligus pembelian untuk kebutuhan rumah tangga.
Dalam kasus seperti ini, Google Business Profile sebaiknya tidak hanya menampilkan identitas sebagai pabrik atau produsen, tetapi juga menjelaskan bahwa perusahaan menerima pembelian langsung dari konsumen jika memang layanan tersebut tersedia.
Hal ini membantu mengurangi kebingungan sekaligus memperluas peluang mendapatkan pelanggan dari kedua segmen.
Software Company yang Memiliki Paket Enterprise dan Individual
Contoh lain dapat ditemukan pada perusahaan teknologi. Sebuah software company mungkin memiliki:
- solusi Enterprise untuk perusahaan besar,
- paket untuk UMKM,
- hingga layanan yang dapat digunakan oleh individu.
Calon pelanggan dari setiap segmen tentu memiliki kebutuhan yang berbeda. Perusahaan besar mungkin ingin mengetahui pengalaman implementasi dan dukungan teknis, sedangkan pengguna individu lebih tertarik pada kemudahan penggunaan, harga, atau fitur utama.
Karena itu, informasi yang ditampilkan pada Google Business Profile sebaiknya mampu memberikan gambaran umum mengenai layanan yang tersedia, sementara penjelasan lebih lengkap dapat diarahkan ke website perusahaan.
Tentukan Positioning Utama agar Profil Tetap Jelas
Melayani B2B dan B2C bukan berarti semua informasi harus ditampilkan dengan porsi yang sama. Terlalu banyak pesan justru dapat membuat calon pelanggan kesulitan memahami fokus bisnis Anda.
Cara yang lebih efektif adalah menentukan positioning utama berdasarkan segmen yang paling penting bagi perusahaan. Sebagai contoh:
- Jika sekitar 80% pendapatan berasal dari klien perusahaan, maka profil sebaiknya lebih menonjolkan layanan B2B, pengalaman perusahaan, serta industri yang dilayani. Informasi mengenai layanan untuk konsumen tetap dapat dicantumkan, tetapi sebagai pelengkap.
- Sebaliknya, jika mayoritas pelanggan adalah konsumen, maka informasi seperti lokasi, jam operasional, produk, dan pengalaman pelanggan dapat menjadi fokus utama, sementara layanan B2B dijelaskan secara ringkas.
Pendekatan ini membantu Google Business Profile menyampaikan pesan yang lebih jelas kepada calon pelanggan tanpa menghilangkan peluang dari segmen lainnya.
Tidak ada aturan bahwa Google Business Profile harus memilih menjadi B2B atau B2C. Yang terpenting adalah memastikan profil Anda mencerminkan model bisnis yang sebenarnya dan menonjolkan informasi yang paling relevan bagi target pelanggan utama.
Dengan positioning yang jelas, calon pelanggan akan lebih mudah memahami apa yang perusahaan Anda tawarkan dan apakah layanan tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
Checklist: Apakah Google Business Profile Anda Sudah Sesuai dengan Model Bisnis?
Setelah memahami perbedaan kebutuhan bisnis B2B dan B2C, sekarang saatnya mengevaluasi Google Business Profile yang Anda miliki.
Tidak ada profil yang benar atau salah secara mutlak. Yang terpenting adalah apakah informasi yang ditampilkan sudah sesuai dengan target pelanggan yang ingin Anda jangkau.
Gunakan checklist berikut sebagai bahan evaluasi.
Jika Mayoritas Pelanggan Anda Adalah Bisnis (B2B)
Centang jika pernyataan berikut sudah sesuai dengan Google Business Profile Anda.
- ☐ Deskripsi bisnis menjelaskan secara jelas apa yang perusahaan lakukan.
- ☐ Layanan utama yang ditawarkan dijelaskan dengan spesifik, bukan hanya istilah yang umum.
- ☐ Profil menunjukkan industri atau jenis klien yang biasa dilayani.
- ☐ Informasi kontak perusahaan mudah ditemukan dan selalu diperbarui.
- ☐ Website perusahaan terhubung dan berisi informasi yang lebih lengkap.
- ☐ Foto yang ditampilkan menunjukkan kantor, tim, proyek, atau aktivitas profesional perusahaan.
- ☐ Profil membantu calon klien memahami kompetensi perusahaan sebelum menghubungi tim sales.
- ☐ Informasi yang tersedia mendukung proses evaluasi vendor, bukan hanya menunjukkan lokasi bisnis.
Semakin banyak poin yang Anda centang, semakin besar kemungkinan Google Business Profile sudah sesuai dengan karakteristik bisnis B2B.
Jika Mayoritas Pelanggan Anda Adalah Konsumen (B2C)
Sekarang periksa apakah profil Anda memenuhi kebutuhan pelanggan yang ingin bertransaksi secara langsung.
- ☐ Alamat bisnis mudah ditemukan dan akurat.
- ☐ Jam operasional selalu diperbarui.
- ☐ Produk atau layanan utama mudah dipahami.
- ☐ Nomor telepon atau tombol tindakan memudahkan pelanggan menghubungi bisnis.
- ☐ Foto produk, tempat usaha, atau hasil layanan memberikan gambaran yang jelas kepada calon pelanggan.
- ☐ Profil memiliki ulasan pelanggan yang relevan dan aktif.
- ☐ Informasi pada profil membantu pelanggan mengambil keputusan dengan cepat.
- ☐ Calon pelanggan dapat dengan mudah mengetahui bagaimana cara membeli, memesan, atau berkunjung.
Jika sebagian besar poin di atas terpenuhi, berarti profil Anda sudah lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis B2C.
Jika Bisnis Anda Melayani B2B dan B2C Sekaligus
Banyak perusahaan berada di posisi ini. Karena itu, evaluasi juga beberapa pertanyaan berikut.
- ☐ Apakah target pelanggan utama sudah terlihat jelas?
- ☐ Apakah informasi yang ditampilkan tidak membingungkan calon pelanggan?
- ☐ Apakah profil menjelaskan seluruh layanan tanpa kehilangan fokus utama bisnis?
- ☐ Apakah website memberikan penjelasan lebih lengkap untuk masing-masing segmen pelanggan?
- ☐ Apakah calon pelanggan dari kedua segmen tetap dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan dengan mudah?
Jika masih banyak jawaban “belum”, mungkin sudah waktunya meninjau kembali bagaimana Google Business Profile Anda disusun.
Tidak Perlu Menampilkan Semua Hal Sekaligus
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba menampilkan semua informasi untuk semua jenis pelanggan. Akibatnya, profil menjadi kurang fokus dan pesan yang ingin disampaikan tidak jelas.
Sebaliknya, tentukan terlebih dahulu siapa target pelanggan utama Anda, lalu pastikan informasi yang paling penting bagi mereka muncul dengan jelas. Setelah itu, tambahkan informasi pendukung untuk segmen pelanggan lainnya jika memang diperlukan.
Google Business Profile yang efektif bukanlah profil yang berisi informasi paling banyak, melainkan profil yang paling relevan dengan kebutuhan calon pelanggan.
Ketika isi profil sesuai dengan cara mereka mencari informasi dan mengambil keputusan, peluang untuk mendapatkan inquiry, kunjungan, atau pelanggan baru juga akan semakin besar.
Kesimpulan
Google Business Profile dapat dimanfaatkan oleh hampir semua jenis bisnis, baik yang melayani perusahaan (B2B), konsumen akhir (B2C), maupun keduanya sekaligus.
Namun, cara menyusun profilnya tidak seharusnya disamakan karena kebutuhan dan cara mengambil keputusan calon pelanggan juga berbeda.
Pada bisnis B2B, calon klien umumnya mencari informasi yang membantu mereka mengevaluasi sebuah perusahaan, seperti layanan yang ditawarkan, pengalaman, kredibilitas, industri yang dilayani, hingga kemudahan menghubungi tim penjualan.
Sebaliknya, pada bisnis B2C, pelanggan lebih memperhatikan informasi yang mendukung keputusan transaksi secara cepat, seperti lokasi, jam operasional, produk atau layanan, foto, serta ulasan dari pelanggan lain.
Oleh karena itu, sebelum memperbarui Google Business Profile, luangkan waktu untuk memahami siapa target pelanggan utama bisnis Anda.
Dengan mengetahui apa yang mereka cari dan informasi apa yang paling mereka butuhkan, Anda dapat menyusun profil yang lebih relevan dan memberikan pengalaman yang lebih baik sejak calon pelanggan pertama kali menemukan bisnis Anda di Google Search atau Google Maps.
Semakin sesuai isi profil dengan kebutuhan target pasar, semakin besar peluang profil tersebut membantu menghasilkan inquiry, kunjungan, maupun pelanggan baru yang berkualitas.
Tinggalkan komentar