Hal Penting Yang Harus Diketahui Sebelum Menulis Copywriting

Setiap usaha yang menggunakan dunia digital sebagai channel pemasaran pasti membutuhkan konten untuk melakukan kegiatan promosi produk dan jasa. Salah satu nya adalah copywriting.

Copywriting mengambil peran penting dalam kegiatan promosi dan branding, utamanya sebagai penyampai pesan. Ada banyak hal yang perlu kamu ketahui untuk membuat copywriting yang baik.

Apa itu copywriting?

Secara garis besar, copywriting adalah kegiatan membuat tulisan persuasif yang mampu menarik perhatian orang dan mengarahkan mereka untuk menyakini atau melakukan sesuatu.

Singkatnya copywriting adalah tulisan yang menjual atau persuasif.

Tujuannya untuk membuat orang tertarik terhadap suatu produk atau pemikiran. Oleh karena itu, copy harus bisa menyampaikan pesan secara efektif, sehingga audiens melakukan apa yang kita inginkan.

Copywriting bisa kita temukan dalam berbagai bentuk mulai dari katalog, brosur, iklan cetak, iklan tv, iklan dalam bentuk format digital, dan masih banyak lagi.

Sebelum menulis copywriting, kita perlu tahu informasi penting terkait produk, kompetitor, target audience, brand voice, dan media yang digunakan.

Fitur dan benefit produk atau jasa

Didalam produk ada yang namanya fitur dan benefit.

Fitur adalah spesifikasi dan keunggulan dari sebuah produk yang bisa dideskripsikan. Sementara benefit adalah manfaat dari fitur tersebut yang bisa dirasakan oleh konsumen saat memakai produk.

Misalnya sebuah produk minuman sachet, memiliki fitur mengandung vitamin C. Maka benefit yang dapat dikomunikasikan adalah menyehatkan tubuh.

Fitur berikutnya, tersedia dalam rasa Anggur, jeruk, dan strawberry. Maka benefit yang dapat dikomunikasikan ialah tersedia dalam berbagai pilihan rasa buah yang enak dan menyegarkan.

Fitur berikutnya, dijual dalam bentuk bubuk dan dalam kemasan sachet. Maka benefit yang dapat dikomunikasikan adalah praktis, mudah dibuat, dan bisa dibawa kemana-mana.

Untuk membantu menggali Insight suatu produk ada beberapa cara yang bisa dipakai.

1. Bayangkan diri kamu adalah konsumen

Tanyakan manfaat yang ingin kamu dapat dari fitur yang ada.

Misalnya sampo X, mempunyai fitur untuk membuat rambut lebih halus.

Lalu apa pentingnya buat kamu?

Apa membuat kamu tidak perlu menyisir rambut lagi, atau membuat jadi lebih percaya diri.

Validasikan asumsi ini ke teman, atau siapapun yang merupakan konsumen dari produk tersebut.

2. Hubungkan fitur dengan kebutuhan atau keinginan

Misal aplikasi marketplace untuk pedagang.

Sekarang marketplace sudah tidak hanya menjadi tempat jual-beli barang fisik, tapi juga digital.

Ditambah berbagai fitur dan promo yang mereka buat. Salah satu fiturnya adalah grosir online.

Layanan digital seperti pembayaran PLN, angsuran kredit, bayar tagihan telepon, dll.

Benefit yang bisa dikomunikasikan adalah “gampang untungnya”. Karena mudah mendapatkan barang dengan harga grosir, sekaligus bisa untuk buka jasa pembayaran digital.

Kompetitor dan USP

Seorang pembuat iklan harus bisa membuat konsumen lebih memilih produk nya dibandingkan produk lain. Untuk itu, mengetahui kompetitor dan menentukan positioning yang tepat wajib hukumnya.

BACA JUGA:  Formula AIDA dalam Copywriting

Lihat produk serupa yang beredar di pasaran, merekalah yang disebut kompetitor. Lakukan analisa tentang kompetitor, catat keunggulan dan kekurangan dari produk mereka.

Setelah menganalisa keunggulan dan kekurangan kompetitor, tentukan Uniq Selling Proposition untuk produk kamu.

Uniq Selling Proposition atau USP adalah nilai jual produk kamu yang membedakan dengan produk-produk yang lain. Hal ini supaya kamu bisa bersaing di pasaran.

Sederhananya, apa keunggulan produk kamu yang tidak dimiliki produk lain.

Misalnya kamu punya produk shampo A, kompetitor Kamu adalah shampo X, dan shampo Y. Keunggulan dari shampo X adalah anti ketombe, dan shampo Y adalah membuat rambut hitam berkilau.

Agar produk shampo A yang kamu jual bisa bersaing dengan kompetitor. USP shampo A bisa jadi adalah membuat rambut halus dan mudah disisir.

Dengan begitu, Citra sebuah produk dibenak Konsumen akan terbentuk dengan kuat sesuai dengan USP yang dikomunikasikan.

Katakanlah jika konsumen mencari shampo yang menghaluskan rambut, shampo A adalah jawabannya.

Biasanya USP terfokus pada satu dari tiga aspek ini:

1. Kualitas

Misalnya, shampo A tadi bisa menghaluskan rambut karena memiliki kandungan keratin yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk shampo lainnya.

2. Harga

Misalnya, dengan kualitas yang lebih baik, harga bisa lebih murah atau sama.

3. Pelayanan

Misalnya, menyediakan layanan konsumen 24 jam jika ada keluhan terhadap produk yang dibeli.

Yang harus diingat adalah USP akan ada seiring dengan fitur dan benefit sebuah produk dan kebutuhan dari konsumen.

Target Audience

Target audience adalah konsumen suatu produk yang menjadi sasaran dari iklan yang kita buat.

Setiap orang memiliki cara komunikasi yang berbeda-beda. Dengan mempelajari perilaku target audience, kita bisa tahu cara berkomunikasi yang tepat dan efektif.

Banyak hal yang bisa mempengaruhi cara orang berkomunikasi.

Hal ini bisa dilihat dari demografinya. Misalnya umur, jenis kelamin, penghasilan, status pernikahan, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan masih banyak lagi.

1. Umur

Kelompok umur punya cara komunikasi yang berbeda.

Bicara umur, ada yang disebut dengan kelompok generasi. Ada generasi baby Boomer, generasi Y atau millenial, maupun generasi Z. Masing-masing kelompok punya pola perilaku dan cara komunikasinya sendiri.

Contohnya iklan dengan target anak muda usia 21 tahun. Mereka akan tertarik dengan jalan-jalan, karena itu buat tulisan yang berkaitan dengan liburan.

Sementara iklan berikutnya ditargetkan untuk orang dengan usia 35 tahun. Prioritas utama mereka adalah karir dan bisnis, karena itu buat tulisan yang berkaitan dengan usaha membangun bisnis.

2. Gender

Gender juga mempengaruhi cara komunikasi dan mewakili perbedaan interest secara stereotip.

Misalnya iklan kebut Tokopedia. Meskipun termasuk dalam satu rangkaian campaign, tapi perbedaan target berdasarkan gender juga mempengaruhi tulisan dan visual dalam iklan.

BACA JUGA:  Perbedaan Content Writer dan Copywriter

Boy William merepresentasikan keinginan menjadi content Creator yang kebanyakan laki-laki, sedangkan Tasya Farasya merepresentasikan keinginan menjadi beauty guru yang kebanyakan diminati oleh perempuan.

3. Sosial Ekonomi Status (SES)

Ini terkait pendapatan dan daya beli masyarakat. Dengan mengetahui golongan S.E.S a, b, atau c, kita bisa tahu kecenderungan perilaku mereka.

Studi tentang pengelompokan ini bisa dicari di internet. Yang penting kita bisa tahu Lifestyle mereka, hiburan mereka, value apa yang penting bagi mereka, cita-cita dan ketakutan yang mereka miliki.

Untuk mengenal target audience lebih dalam, bisa dengan melakukan observasi. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang bisa menggambarkan perilaku dan interest mereka.

Bisa juga mencari hal-hal viral yang sedang mereka gandrungi di sosial media, kemudian memanfaatkannya untuk menjangkau mereka lebih dekat dengan iklan yang dibuat.

Di Advertising agency hal ini biasanya akan disediakan oleh seorang strategic planner, namun seorang copywriter juga butuh mempelajari hal ini untuk mengetahui celah komunikasi yang mungkin tidak terlihat.

Voice And Tone Yang Tepat

in many cases How you sell is more important than what you sell

Brian Clark

Voice pada sebuah brand bisa diibaratkan sebagai sebuah persona atau sesosok manusia dengan sifat tertentu. Apakah ia santai ramah dan suka bercanda, atau serius – tegas, dan profesional.

Setiap brand akan menjaga bisnis mereka agar tetap konsisten. Intinya voice akan menjadi identitas sekaligus karakter brand dalam berkomunikasi.

Voice tersebut ditentukan dari bagaimana Citra yang ingin dibentuk dimata konsumen.

Brand voice dapat dikombinasikan dengan tone. Jika brand Voice adalah Persona atau karakter sebuah brand, maka tone adalah cara bicara atau pembawaan.

Misalnya brand voice nya friendly, inspiring, dan playfull, maka brand tone nya bisa personal, humble, dan direct.

Sesuaikan voice and tone dalam iklan dengan target audience. Voice and tone sangat mempengaruhi cara target audience dalam merespon iklan.

Karakter Setiap Media

Media dalam sebuah iklan dapat mempengaruhi cara komunikasi dengan target audience. Copy perlu disesuaikan dengan karakter tiap media agar pesan tersampaikan secara efektif.

Iklan dapat berbentuk media satu arah yang dikonsumsi masyarakat luas seperti, iklan Billboard, iklan tv, iklan radio, push notification.

Iklan juga bisa bersifat komunikasi dua arah seperti iklan di Facebook, dan Instagram yang dapat kita respon dengan imoji atau komentar.

Media dan target audience berinteraksi dalam bentuk dan situasi yang berbeda-beda. Untuk mengetahui karakter tiap media, sebelumnya perlu memahami fungsi dan posisi tiap media dan aktivitas target audience.

Contohnya Billboard digunakan untuk menggapai masa yang lebih luas.

Billboard ada ditempat umum dimana orang selalu berlalu-lalang dengan aktivitasnya masing-masing. Karena itu konten Billboard harus singkat, padat, dan jelas. Karena waktu untuk target audience membaca relatif singkat.

Sementara iklan di Instagram muncul ketika kamu sedang asyik scrolling foto. Karena itu iklan di instagram harus bisa membuat audiens berhenti scrolling, untuk merespon dengan komentar atau meng klik tombol Link yang disediakan.

Beda lagi untuk iklan tv atau TVC. Iklan harus bisa menarik perhatian menggunakan elemen visual dan audio, hingga mendeskripsikan aktivitas yang sedang dilakukan target audience.

Mengetahui karakter tiap media akan membantu menemukan kekuatan dari sebuah iklan, yang dapat membuat target audience berhenti sejenak dari aktivitasnya, atau dalam dunia periklanan sering disebut dengan istilah stopping power.

Dapatkan notifikasi ke email kamu setiap kali ada tulisan baru. GRATIS.

    Add your first comment to this post

    Website ini menggunakan theme generatepress premium dan layanan hosting di webnesia.co.id.

    Site content is protected.

    Pin It on Pinterest

    Share This