Cara Menggunakan Google Posts untuk Update Bisnis B2B

Panduan lengkap cara pakai fitur Google Posts untuk membagikan update layanan B2B di Indonesia. Tingkatkan visibilitas bisnis Anda dengan strategi terbukti.

Kalau calon pelanggan mencari bisnis Anda di Google, mereka biasanya tidak hanya ingin tahu nama perusahaan atau alamatnya. Mereka juga ingin melihat apakah bisnis tersebut masih aktif, apa yang sedang dikerjakan, dan apakah perusahaan tersebut benar-benar memahami kebutuhan mereka.

Di sinilah Google Posts bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari content marketing.

Google Posts memungkinkan bisnis membagikan berbagai informasi melalui Google Business Profile, mulai dari update perusahaan, konten edukasi, studi kasus, event, hingga penawaran tertentu.

Untuk bisnis B2B, fungsi ini menarik karena calon klien sering membutuhkan lebih banyak informasi sebelum akhirnya menghubungi sebuah perusahaan.

Misalnya, perusahaan konsultan bisa membagikan insight industri. Perusahaan manufaktur dapat menunjukkan proses di balik produksi. Agency bisa membagikan studi kasus klien. Sementara perusahaan software dapat mengumumkan webinar atau memperkenalkan solusi tertentu.

Jadi, pertanyaannya bukan sekadar “bagaimana cara membuat Google Posts?”, tetapi “konten apa yang sebaiknya dibagikan dan kapan format tertentu digunakan?”

Apa Itu Google Posts dan Apa Fungsinya untuk Content Marketing?

Google Posts adalah fitur di Google Business Profile yang memungkinkan bisnis membagikan informasi atau konten terbaru kepada orang yang menemukan bisnis tersebut melalui Google.

Bentuknya bisa berupa update, penawaran, event, maupun konten yang berkaitan dengan produk atau solusi bisnis. Kalau dilihat dari sudut pandang content marketing, Google Posts bukan sekadar tempat untuk mengumumkan promo.

Fitur ini bisa digunakan sebagai kanal distribusi konten singkat untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan perusahaan, pengetahuan yang dimiliki, serta informasi yang mungkin berguna bagi calon pelanggan.

Ini cukup relevan untuk bisnis B2B karena proses pembelian biasanya tidak terjadi dalam satu kali interaksi. Calon klien bisa saja sudah menemukan perusahaan Anda, tetapi masih ingin memahami keahlian, pengalaman, solusi, atau aktivitas perusahaan sebelum menghubungi tim sales.

Google Posts Bukan Sekadar Tempat Mengumumkan Promo

Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap Google Posts hanya cocok untuk diskon atau penawaran. Padahal, bisnis B2B punya banyak materi yang bisa dikomunikasikan tanpa harus selalu menjual. Contohnya:

  • Edukasi: tips memilih supplier, insight industri, atau penjelasan masalah yang sering dialami pelanggan.
  • Studi kasus: bagaimana perusahaan membantu klien menyelesaikan masalah tertentu.
  • Behind the scene: proses produksi, aktivitas tim, atau persiapan sebuah proyek.
  • Pencapaian: sertifikasi, penghargaan, milestone, atau proyek penting.
  • Event: webinar, seminar, workshop, atau pelatihan.
  • Lowongan kerja: jika perusahaan memang ingin sekaligus memperkuat employer branding.

Dengan pendekatan seperti ini, posting update di Google Bisnis menjadi bagian dari komunikasi perusahaan, bukan sekadar papan iklan digital.

Kenapa Konten B2B Perlu Ikut Dipublikasikan di Google?

Calon pelanggan B2B sering melakukan riset sebelum mengambil keputusan. Mereka mungkin membandingkan beberapa vendor, membaca website, melihat profil perusahaan, atau mencari bukti bahwa sebuah perusahaan memang berpengalaman di bidangnya.

Google Posts dapat menjadi salah satu titik tambahan untuk memberikan konteks tersebut.

Misalnya, sebuah perusahaan konsultan tidak harus terus menulis, “Hubungi kami untuk konsultasi.” Mereka bisa membagikan insight tentang perubahan di industri, ringkasan studi kasus, atau pelajaran dari proyek yang pernah dikerjakan.

Begitu juga perusahaan manufaktur. Daripada hanya menampilkan bahwa mereka menyediakan produk tertentu, perusahaan bisa menunjukkan proses quality control, teknologi yang digunakan, atau pencapaian produksi.

Konten seperti ini membantu calon klien memahami siapa Anda, apa yang Anda kerjakan, dan bagaimana Anda memberikan nilai.

Apa yang Bisa Dikomunikasikan melalui Google Posts?

Secara sederhana, pikirkan Google Posts seperti slot konten pendek untuk memperbarui informasi di sekitar kehadiran bisnis Anda di Google. Namun, setiap konten sebaiknya memiliki alasan yang jelas untuk dipublikasikan.

Jika ingin membagikan insight atau berita perusahaan, gunakan Update. Jika memiliki penawaran khusus, Offer lebih sesuai. Untuk webinar atau kegiatan yang memiliki tanggal tertentu, gunakan Event. Sementara Product dapat digunakan ketika Anda ingin menyoroti produk atau solusi tertentu.

Jadi, cara pakai fitur Google Posts yang efektif bukan dengan bertanya “Apa yang bisa saya posting hari ini?”, tetapi: “Informasi apa yang sedang relevan bagi calon pelanggan, dan format Google Posts mana yang paling tepat untuk menyampaikannya?”

Pola pikir ini membuat Google Posts untuk bisnis B2B lebih dekat dengan content marketing daripada sekadar aktivitas rutin posting.

4 Jenis Google Posts: Kapan Sebaiknya Menggunakan Masing-Masing?

Salah satu bagian penting dari cara pakai fitur Google Posts adalah memahami bahwa tidak semua konten harus dibuat dengan format yang sama.

Untuk kebutuhan content marketing B2B, Anda bisa membedakan empat format utama: Update, Offer, Event, dan Product. Masing-masing punya konteks penggunaan yang berbeda.

Jenis Google PostsGunakan ketikaContoh konten B2B
UpdateIngin membagikan informasi atau konten terbaruInsight industri, studi kasus, pencapaian
OfferAda penawaran atau promo tertentuFree consultation, diskon, special offer
EventAda kegiatan dengan waktu tertentuWebinar, seminar, workshop
ProductIngin menyoroti produk atau solusi tertentuSoftware, mesin, paket solusi

Jadi, sebelum membuat google posts untuk bisnis B2B, tentukan dulu tujuan komunikasinya. Berikut cara membedakan keempatnya.

Kapan Menggunakan Update?

Update paling fleksibel dan biasanya menjadi format utama untuk content marketing. Gunakan ketika Anda ingin membagikan informasi yang tidak terikat pada promo atau tanggal event tertentu. Contohnya:

  • tips dan edukasi industri;
  • insight dari tim perusahaan;
  • studi kasus;
  • berita perusahaan;
  • pencapaian atau sertifikasi;
  • behind the scene;
  • informasi mengenai proyek yang baru selesai.

Misalnya perusahaan konsultan manajemen ingin membagikan: “3 Kesalahan yang Sering Membuat Proses Procurement Perusahaan Menjadi Tidak Efisien.”

Konten seperti ini lebih tepat dibuat sebagai Update karena tujuannya memberikan informasi, bukan langsung menjual layanan.

Gunakan Update ketika: Anda ingin membangun awareness, menunjukkan expertise, atau memberikan informasi yang membantu calon pelanggan.

Kapan Menggunakan Offer?

Offer cocok ketika ada penawaran yang memang ingin diberikan kepada calon pelanggan. Untuk bisnis B2B, penawaran tidak selalu berarti potongan harga. Bisa juga berupa:

  • konsultasi awal gratis;
  • free assessment;
  • audit gratis;
  • bonus layanan;
  • harga khusus untuk periode tertentu;
  • paket khusus perusahaan baru;
  • trial atau demo.

Contohnya: “Free Website Audit untuk Perusahaan B2B
Kami akan membantu mengidentifikasi masalah utama pada website yang mungkin membuat calon pelanggan sulit menghubungi bisnis Anda.”

CTA-nya bisa diarahkan ke halaman audit atau formulir pendaftaran.

Yang penting, Offer digunakan ketika memang ada sesuatu yang ditawarkan. Jangan mengubah setiap konten edukasi menjadi seolah-olah promo hanya supaya terlihat lebih menjual.

Gunakan Offer ketika:Anda ingin mendorong tindakan yang lebih langsung dari calon pelanggan.”

Kapan Menggunakan Event?

Gunakan Event ketika konten yang ingin dipromosikan berkaitan dengan kegiatan yang memiliki waktu atau jadwal tertentu. Untuk bisnis B2B, format ini cocok untuk:

  • webinar;
  • seminar;
  • workshop;
  • training;
  • product demonstration;
  • business gathering;
  • open house;
  • konferensi;
  • kegiatan perusahaan.

Misalnya sebuah perusahaan software mengadakan webinar: Webinar: Cara Mengurangi Kesalahan Data dalam Proses Operasional

Daripada hanya membuat Update biasa, format Event lebih masuk akal karena calon peserta perlu mengetahui apa acaranya, kapan berlangsung, dan bagaimana cara mengikutinya.

Event juga bisa menjadi cara yang cukup natural untuk melakukan content marketing sekaligus lead generation. Kontennya memberikan pengetahuan, sementara event menjadi langkah berikutnya bagi orang yang ingin belajar lebih jauh.

Gunakan Event ketika: ada kegiatan spesifik dengan jadwal yang perlu diketahui atau diikuti audiens.

Kapan Menggunakan Product?

Format Product paling relevan ketika Anda ingin menyoroti produk atau solusi tertentu. Untuk bisnis B2B, contohnya bisa berupa:

  • software;
  • mesin industri;
  • peralatan kantor;
  • solusi keamanan;
  • perangkat teknologi;
  • paket layanan yang memang diposisikan sebagai solusi tertentu.

Misalnya perusahaan manufaktur ingin memperkenalkan mesin baru yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Kontennya bisa berfokus pada:
Masalah → solusi → manfaat utama → siapa yang cocok menggunakannya → CTA.

Namun, jangan menjadikan format Product sebagai alasan untuk membuat semua posting hanya berisi katalog.

Jika calon pelanggan masih berada pada tahap awal riset, konten edukasi atau studi kasus melalui Update mungkin jauh lebih relevan. Product lebih cocok ketika Anda memang ingin mengarahkan perhatian pada solusi tertentu.

Gunakan Product ketika: ada produk atau solusi spesifik yang ingin diperkenalkan atau disorot.

Cara Sederhana Memilih Format Google Posts

Kalau masih bingung, gunakan pertanyaan berikut: “Apa tujuan utama posting ini?”

  • Mau memberikan informasiUpdate
  • Mau memberikan penawaranOffer
  • Mau mengajak orang mengikuti kegiatanEvent
  • Mau menyoroti produk/solusi tertentuProduct

Dengan pola ini, strategi google posts bisnis Indonesia tidak perlu dibuat rumit. Yang lebih penting adalah memastikan format mengikuti tujuan konten, bukan sebaliknya.

Dan untuk bisnis B2B, sebagian besar konten content marketing kemungkinan akan berada pada format Update, karena format tersebut paling fleksibel untuk edukasi, insight, studi kasus, pencapaian, dan behind the scene.

Jenis Konten yang Cocok untuk Google Posts Bisnis B2B

Setelah memahami perbedaan Update, Offer, Event, dan Product, langkah berikutnya adalah menentukan apa yang sebenarnya ingin dibagikan.

Untuk bisnis B2B, pilihan kontennya cukup luas. Anda tidak harus terus-menerus membicarakan produk atau menawarkan harga. Justru, konten yang memberikan informasi, menunjukkan pengalaman, dan membantu calon klien memahami bisnis Anda bisa menjadi materi yang lebih menarik.

Berikut beberapa jenis konten yang bisa digunakan untuk google posts untuk bisnis B2B.

Konten Edukasi

Konten edukasi cocok untuk menunjukkan bahwa perusahaan Anda memahami masalah dan kebutuhan industri yang dilayani. Materinya tidak harus panjang. Ambil satu pertanyaan atau masalah yang sering muncul, kemudian berikan jawaban singkat dan praktis.

Contohnya:

  • “5 Kesalahan Saat Memilih Supplier Bahan Baku”
  • “Apa yang Harus Dicek Sebelum Membeli Mesin Produksi?”
  • “Kapan Perusahaan Membutuhkan ERP?”
  • “Cara Menghitung Kebutuhan Kapasitas Gudang”

Konten seperti ini paling cocok menggunakan format Update.

Untuk bisnis B2B, edukasi juga bisa menjadi cara yang lebih natural untuk memperkenalkan keahlian perusahaan tanpa langsung melakukan hard selling.

Studi Kasus dan Hasil Pekerjaan

Studi kasus membantu calon pelanggan melihat bagaimana perusahaan Anda menangani masalah nyata. Daripada hanya mengatakan “Kami berpengalaman”, tunjukkan pengalaman tersebut melalui cerita singkat.

Strukturnya bisa sederhana:
Masalah → solusi → hasil.

Misalnya: “Sebuah perusahaan distribusi mengalami kesulitan mengelola permintaan dari beberapa cabang. Setelah proses operasionalnya ditinjau, tim kami membantu menyederhanakan alur pelaporan dan koordinasi antarbagian.”

Jika memungkinkan, tambahkan hasil yang konkret dan memang boleh dipublikasikan. Studi kasus biasanya cocok menggunakan Update, karena fokus utamanya adalah memberikan insight dan membangun kepercayaan.

Behind the Scene

Tidak semua calon klien ingin melihat hasil akhirnya saja. Dalam banyak kasus, proses di balik sebuah pekerjaan justru bisa menunjukkan profesionalisme perusahaan. Contohnya:

  • proses quality control;
  • persiapan produksi;
  • aktivitas tim;
  • proses instalasi;
  • persiapan proyek;
  • meeting dengan tim;
  • proses pengujian produk;
  • persiapan sebelum event.

Untuk perusahaan manufaktur, misalnya, foto atau video singkat proses quality control bisa menjadi konten yang menarik. Untuk agency atau konsultan, behind the scene bisa berupa proses riset atau persiapan sebuah proyek.

Konten seperti ini membantu membuat perusahaan terasa lebih nyata dan transparan.

Promo dan Penawaran Khusus

Promo tetap bisa digunakan, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya jenis konten. Untuk bisnis B2B, penawaran bisa dibuat lebih relevan dengan kebutuhan calon klien. Tidak harus selalu berupa diskon. Contohnya:

  • konsultasi awal gratis;
  • audit atau assessment gratis;
  • demo produk;
  • trial;
  • paket khusus;
  • bonus layanan;
  • penawaran untuk periode tertentu.

Format Offer paling sesuai untuk jenis konten ini.

Namun, pastikan calon pelanggan langsung memahami apa yang ditawarkan, siapa yang cocok mendapatkannya, dan tindakan apa yang perlu dilakukan.

Pencapaian Perusahaan

Milestone perusahaan juga bisa menjadi materi content marketing. Misalnya:

  • mendapatkan sertifikasi baru;
  • memenangkan penghargaan;
  • mencapai milestone tertentu;
  • membuka fasilitas baru;
  • menyelesaikan proyek penting;
  • mendapatkan partner baru;
  • memperluas area layanan.

Daripada hanya menulis “Kami bangga mendapatkan penghargaan X”, tambahkan konteks mengapa pencapaian tersebut penting bagi pelanggan.

Contohnya: “Kami baru menyelesaikan sertifikasi X. Bagi pelanggan, ini berarti proses produksi kami kini mengikuti standar tambahan untuk aspek tertentu yang berkaitan dengan kualitas dan keamanan.”

Dengan begitu, pencapaian perusahaan tidak terasa seperti sekadar membanggakan diri, tetapi tetap memiliki nilai informasi.

Event, Webinar, dan Pelatihan

Event merupakan salah satu jenis konten yang sangat cocok untuk bisnis B2B karena perusahaan bisa memberikan edukasi sekaligus membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan calon pelanggan. Contohnya:

  • webinar;
  • seminar;
  • workshop;
  • training;
  • product demo;
  • konferensi;
  • business gathering.

Gunakan format Event ketika kegiatan memiliki jadwal yang jelas.

Misalnya:
Webinar Gratis: Strategi Mengurangi Biaya Operasional Gudang
Kamis, 20 Agustus 2026 — 14.00 WIB
Cocok untuk pemilik bisnis, operational manager, dan warehouse manager.”

Konten seperti ini lebih kuat jika menjelaskan siapa yang sebaiknya mengikuti event dan apa yang akan mereka dapatkan, bukan hanya mencantumkan tanggal dan nama acara.

Lowongan Kerja untuk Employer Branding

Jika relevan, lowongan kerja juga dapat menjadi bagian dari konten perusahaan. Misalnya perusahaan sedang mencari:

  • Sales B2B;
  • engineer;
  • account manager;
  • marketing specialist;
  • customer support;
  • warehouse staff.

Memang, target utama konten ini bukan selalu calon pelanggan. Tetapi dari sisi komunikasi brand, aktivitas tersebut dapat menunjukkan bahwa perusahaan sedang berkembang dan aktif merekrut talenta.

Karena itu, lowongan kerja sebaiknya digunakan secara selektif dan tidak mendominasi kalender konten.

Cara Menentukan Konten Google Posts Berdasarkan Tujuan Bisnis

Salah satu cara paling mudah membuat strategi Google Posts bisnis Indonesia lebih terarah adalah menentukan tujuan konten sebelum menentukan topiknya.

Jangan mulai dari pertanyaan, “Hari ini mau posting apa?”
Mulailah dari: “Apa yang ingin saya capai dari posting ini?”

Dengan begitu, Anda tidak perlu memaksakan semua konten untuk menghasilkan penjualan langsung. Ada posting yang memang bertujuan mengenalkan perusahaan, ada yang menunjukkan keahlian, dan ada pula yang secara langsung mengajak calon pelanggan mengambil tindakan.

Berikut cara memilih konten berdasarkan tujuan bisnis.

Jika Tujuannya Membangun Awareness

Kalau perusahaan ingin lebih dikenal oleh calon pelanggan, gunakan konten yang ringan dan mudah dipahami. Beberapa pilihan yang bisa digunakan:

  • insight industri;
  • fakta atau tren pasar;
  • edukasi dasar;
  • aktivitas perusahaan;
  • pencapaian perusahaan;
  • behind the scene.

Format Update biasanya paling fleksibel untuk tujuan ini.

Misalnya perusahaan supplier bahan baku ingin memperkenalkan keahliannya. Daripada langsung menawarkan produk, perusahaan bisa membuat posting: “3 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Bahan Baku untuk Produksi Skala Besar.”

Konten tersebut belum tentu menghasilkan inquiry saat itu juga. Namun, calon pelanggan yang membacanya mulai mengenali perusahaan sebagai bisnis yang memahami bidang tersebut.

Jika Ingin Menunjukkan Expertise

Untuk bisnis B2B, expertise sangat penting karena calon klien biasanya tidak hanya membeli produk. Mereka juga mempertimbangkan apakah vendor tersebut memahami masalah yang mereka hadapi. Konten yang cocok antara lain:

  • tips praktis;
  • analisis masalah industri;
  • FAQ;
  • insight dari pengalaman perusahaan;
  • studi kasus;
  • kesalahan yang sering terjadi;
  • penjelasan proses kerja.

Misalnya sebuah perusahaan konsultan HR dapat membagikan: “Mengapa Turnover Tinggi Tidak Selalu Berarti Masalah Ada di Gaji?”
Kemudian berikan beberapa poin penjelasan singkat.

Konten semacam ini membantu menunjukkan cara berpikir perusahaan tanpa harus mengatakan secara langsung bahwa perusahaan tersebut adalah “ahli”.

Jika Ingin Membangun Trust

Trust biasanya lebih mudah dibangun ketika calon pelanggan melihat bukti, bukan sekadar klaim. Karena itu, gunakan konten seperti:

  • studi kasus;
  • hasil pekerjaan;
  • testimoni yang memang dapat dipublikasikan;
  • sertifikasi;
  • penghargaan;
  • proses quality control;
  • behind the scene;
  • milestone perusahaan.

Contohnya, perusahaan kontraktor B2B dapat memperlihatkan proses pemeriksaan kualitas sebelum proyek diserahterimakan.

Pesannya bukan sekadar: “Kami mengutamakan kualitas.” Tetapi menunjukkan bagaimana kualitas tersebut benar-benar dijaga.

Pendekatan seperti ini membuat konten lebih kredibel karena calon pelanggan mendapatkan gambaran mengenai proses nyata di balik layanan perusahaan.

Jika Ingin Mendorong Inquiry

Ketika tujuan utamanya adalah mendapatkan calon pelanggan yang melakukan tindakan lebih lanjut, kontennya bisa dibuat lebih dekat dengan kebutuhan komersial. Beberapa pilihan:

  • studi kasus yang relevan dengan target pelanggan;
  • demo produk;
  • konsultasi awal;
  • free assessment;
  • penawaran khusus;
  • Product highlight;
  • Offer.

Misalnya perusahaan software B2B ingin mendapatkan calon pengguna baru.

Daripada hanya menulis: “Gunakan software kami untuk bisnis Anda.”
Lebih baik membuat konten yang dimulai dari masalah: “Masih Mengelola Laporan Penjualan Multi-Cabang dengan Spreadsheet?”

Kemudian jelaskan secara singkat masalah yang sering muncul dan tawarkan demo sebagai langkah berikutnya. CTA-nya bisa berupa: “Jadwalkan Demo” atau “Lihat Cara Kerjanya”.

Dengan cara ini, konten tetap berangkat dari masalah pelanggan, bukan sekadar promosi produk.

Jika Ingin Mengumumkan Sesuatu

Tidak semua konten harus bertujuan mendapatkan leads. Kadang tujuan utamanya memang menyampaikan informasi. Contohnya:

  • peluncuran produk;
  • layanan baru;
  • pembukaan kantor;
  • sertifikasi baru;
  • partnership;
  • event;
  • webinar;
  • perubahan penting terkait perusahaan.

Untuk pengumuman umum, Update bisa digunakan.Jika pengumumannya berupa kegiatan dengan tanggal tertentu, gunakan Event.

Jika berupa penawaran khusus, gunakan Offer. Sedangkan jika ingin menyoroti solusi tertentu, Product dapat menjadi pilihan.

Satu Konten Tidak Harus Mengejar Semua Tujuan

Hal penting lainnya: jangan mencoba membuat satu posting melakukan semuanya sekaligus.

Misalnya satu posting berisi: edukasi + promo + pencapaian + event + ajakan konsultasi. Hasilnya biasanya justru membingungkan. Lebih baik satu posting memiliki satu tujuan utama. Misalnya:

TujuanKonten yang CocokFormat
AwarenessInsight industriUpdate
ExpertiseEdukasi / analisisUpdate
TrustStudi kasus / proses kerjaUpdate
InquiryDemo / assessment / penawaranOffer atau Product
EngagementWebinar / workshopEvent
AnnouncementBerita perusahaanUpdate
Product awarenessHighlight solusiProduct

Dengan pendekatan ini, strategi google posts untuk bisnis B2B menjadi lebih mudah direncanakan. Anda tidak lagi sekadar mencari ide untuk mengisi jadwal posting, tetapi menentukan tujuan → jenis konten → format → CTA.

Content marketing di Google Business Profile bukan tentang seberapa sering perusahaan berbicara tentang dirinya sendiri.

Yang lebih penting adalah apakah setiap posting memberikan alasan bagi calon pelanggan untuk mengenal, mempercayai, atau mengambil langkah berikutnya bersama bisnis Anda.

Template Copywriting Google Posts yang Bisa Langsung Digunakan

Setelah menentukan tujuan dan jenis konten, bagian yang sering terasa paling sulit adalah menulis copy-nya.

Kabar baiknya, Anda tidak perlu membuat setiap Google Posts dari nol. Untuk kebutuhan google posts untuk bisnis B2B, Anda bisa menggunakan beberapa formula sederhana, kemudian menyesuaikan isinya dengan industri, masalah pelanggan, dan tujuan posting.

Prinsip dasarnya: Hook → Value → Context → CTA

Hook menarik perhatian, value memberikan alasan untuk membaca, context menjelaskan relevansinya, lalu CTA mengarahkan pembaca ke langkah berikutnya.

Berikut beberapa template yang bisa langsung digunakan.

Formula Singkat untuk Menulis Google Posts

Jika Anda ingin membuat posting update di Google Bisnis dengan cepat, gunakan formula berikut:

  • Edukasi: Masalah → Insight → Tips → CTA
  • Studi kasus: Masalah → Solusi → Hasil → CTA
  • Behind the scene: Proses → Alasan → Bukti → CTA
  • Promo: Masalah → Offer → Benefit → CTA
  • Pencapaian: Milestone → Konteks → Dampak → Closing
  • Event: Masalah → Event → Benefit → Jadwal → CTA
  • Product: Masalah → Solusi → Benefit → CTA

Tidak semua posting membutuhkan CTA yang keras. Untuk konten edukasi atau pencapaian, CTA seperti “Pelajari selengkapnya”, “Lihat studi kasusnya”, atau “Ikuti pembahasannya” sering lebih natural daripada langsung meminta orang membeli.

Yang terpenting, copy Google Posts tetap terasa seperti komunikasi dari perusahaan kepada calon pelanggan, bukan iklan yang dipadatkan menjadi beberapa kalimat.

Kesimpulan

Google Posts bisa menjadi kanal content marketing yang sederhana tetapi cukup berguna untuk bisnis B2B. Fungsinya bukan sekadar mengumumkan promo, tetapi memberikan ruang bagi perusahaan untuk menunjukkan expertise, pengalaman, aktivitas, dan solusi kepada calon pelanggan.

Kuncinya bukan pada seberapa sering Anda memposting, melainkan seberapa relevan konten yang dibagikan.

Gunakan Update untuk edukasi, insight, studi kasus, behind the scene, dan berita perusahaan. Gunakan Offer ketika memang ada penawaran khusus.

Gunakan Event untuk webinar, seminar, workshop, atau kegiatan lainnya. Sementara Product dapat digunakan ketika Anda ingin menyoroti produk atau solusi tertentu.

Untuk membuat strategi yang lebih konsisten, Anda juga bisa membagi konten berdasarkan tujuan:

  • Awareness → edukasi dan insight industri
  • Expertise → tips, analisis, dan studi kasus
  • Trust → hasil pekerjaan, proses, sertifikasi, dan pencapaian
  • Inquiry → offer, demo, assessment, atau solution highlight
  • Engagement → event, webinar, dan workshop

Jangan lupa bahwa calon pelanggan B2B tidak selalu siap membeli ketika pertama kali melihat konten Anda. Karena itu, tidak semua Google Posts harus berujung pada ajakan membeli.

Ada kalanya konten terbaik justru hanya menjawab satu pertanyaan yang sering ditanyakan pelanggan. Ada juga yang memperlihatkan bagaimana tim bekerja di balik sebuah proyek.

Konten-konten seperti inilah yang secara perlahan membantu membentuk persepsi bahwa perusahaan Anda kompeten, aktif, dan memahami industrinya.

Tinggalkan komentar

Butuh Jasa Website?

Yuk ngobrol dulu. Nggak harus langsung mulai, kita bisa diskusi ringan dulu buat tahu apa yang paling pas untuk bisnis kamu.

Konsultasi Gratis

Yuk, ngobrol lewat WhatsApp

desain website